Tampilkan postingan dengan label Nilai Kepesantrenan PPM As-Salam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nilai Kepesantrenan PPM As-Salam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Mei 2018

Mengenal Lebih Dekat Pondok Pesantren




Pertama-tama yang harus dipahami terlebih dahulu, apa itu pondok pesantren, siapa yang punya, apa isinya, bagaimana kehidupan di dalamnya, mengapa demikian, apa partainya, ke mana nanti sesudah lulus, dan lain sebagainya.
Semua ini sangat penting untuk diketahui agar tidak salah alamat dan salah sambung. Tidak menanyakan gulai atau sate di toko buku, tidak memancing udang di pematang sawah. Karena gulai dan sate biasa dijual di warung-warung nasi, buku dijual di toko-toko buku, sedangkan udang hanya ada di sungai dan lautan.
Mempelajari sesuatu yang tidak pada tempatnya dapat kita katakan salah alamat atau salah sambung. Mempelajari dan meneliti sesuatu itu sangat penting agar tidak keliru, kecele, dan ragu. Jangan seperti orang buta meraba gajah. Jangan seperti monyet makan manggis.
Karena itu, jangan melihat dari satu sudut pandang saja. Jangan merasakan pedas dan manisnya saja saat mencicipi masakan. Jangan seperti orang yang naik kereta api, bersorak-sorai ketika kereta berangkat. Jangan seperti orang melihat hutan, tetapi tertutup oleh satu pohon. Jangan seperti orang yang numpang kendaraan, tetapi tidak tahu arah, jarak yang ditempuh, dan tujuannya.
Mungkin Anda tidak mau tahu dan masa bodoh, tetapi alangkah baiknya kalau mengetahui apa itu pondok pesantren sehingga Anda mendapat gambaran akan menjadi apa siswa di sana. Jadi, perkenalan itu penting.
Secara faktual, banyak orang yang salah paham terhadap Pondok Modern sehingga sesat dan menyesatkan. Sebagian ada yang mengira bahwa Pondok Modern itu lebih modern dalam pemahaman agama, Pondok Modern banyak mementingkan pelajaran agama daripada ilmu umum, atau sebaliknya.
Ada juga yang bilang, Pondok Modern hanya mementingkan budi pekerti dan bahasa asing, gedungnya bagus-bagus dan megah, dan suasana kepesantrenannya hanya tampak di bulan Ramadhan.
Semua pendapat ini tidak bisa disalahkan sepenuhnya atau dibenarkan sepenuhnya. Untuk mengetahui apa itu Pondok Modern, maka diadakan pekan perkenalan. Yang jelas, kami sudah mengikrarkan, “Semua yang ada di pondok pesantren itu untuk perbaikan.” In uridu illal ishlah.
Segala sesuatu yang ada dalam Pondok Modern ini harus berisi pendidikan, latihan, dan pengajaran. Semua pendidikan dan pengajaran di Pondok Modern harus selalu menyesuaikan dengan kebutuhan umat—kebutuhan masyarakat 10-20 tahun mendatang. Semua itu dipersiapkan dan dipertanggungjawabkan sesuai dengan amanah dan kewajiban kepada Allah.
Semoga dengan pekan perkenalan ini, hilanglah rasa ragu, kemudian tumbuh kepercayaan dalam hati. Dengan demikian, lahirlah rasa cinta dan ikhlas yang mendalam terhadap apa saja yang dilakukan Pondok Modern.
Orang di luar pondok pesantren sering salah menjelaskan apa pengertian pondok dan kekeliruan orang luar memaknai sebuah pondok. Menurut Dr. C. Snouck Hurgronje (1857-1936), seorang orientalis berkebangsaan Belanda, pondok itu terdiri dari gedung-gedung persegi empat, biasanya terbuat dari bambu-bambu.
Untuk desa dengan tingkat kesejahteraan yang bagus, tak jarang ditemukan dinding dan tangga pondok terbuat dari jenis kayu yang berkualitas. Karena kebanyakan santri tidak bersepatu dan harus mencuci kaki sebelum masuk ke asrama, maka dibuatlah titian dari batu yang menghubungkan antara sumur dengan asrama. Untuk pondok yang lebih sederhana biasanya hanya terdiri dari satu ruangan besar yang menjadi bangsal bagi santri.
Sedangkan untuk pondok yang lebih besar, biasanya terdiri dari deretan kamar-kamar kecil yang saling berhadapan, di tengah-tengahnya ada gang, kamar-kamarnya kecil dan sempit sehingga ketika memasuki kamar harus menundukkan kepala. Jendelanya pun kecil-kecil dengan hiasan teralis kayu.
Demikian pula perabotan dalam kamar, sangat sederhana. Di depan jendela yang kecil itu tergantung tikar yang terbuat dari pandan atau rotan, dampar yang di atasnya disusun kitab-kitab klasik, pena dan tempat tinta yang terbuat dari kuningan atau botol biasa. Jika seorang murid hendak mengerjakan tugas sekolah, mereka duduk bersila di atas tikar sambil menghadap ke jendela. Terkadang ada murid yang membaca dan menulis sambil tiduran di atas lantai. Terkadang ada rak buku di pojok kamar untuk menampung kitab-kitab berbahasa Arab pegon.
Segala kebutuhan santri dibawa dari rumah, seperti koper, tikar dan bantul, perabot dapur, dan lain sebagainya. Sedangkan santri yang berasal dari keluarga mampu, mereka memiliki kasur dan bantal yang agak mewah yang ditutupi dengan seprei. Sajadah menjadi barang wajib dalam pondok. Baju bergantungan di sana-sini, jas, baju kokoh, kemeja, kopiah, dan di dekat pintu terdapat sandal jepit atau terompah. Ada beberapa kotak kecil yang disimpan di dapur di belakang asrama yang biasanya diterangi satu atau dua buah lampu.
Satu kamar biasanya diisi 8-10 santri sehingga terasa sempit dan pengap. Namun, hal itu tidak menjadi masalah karena sebagian besar di antara mereka ketika mengulang pelajaran tidak berada dalam kamar. Mereka pergi ke masjid atau mushalla yang terletak di tengah-tengah kompleks pondok. Selain itu santri biasanya juga bersantai atau sekadar tiduran di masjid.
Setiap pesantren punya santri senior yang diserahi tanggung jawab untuk mengatur keamanan dan kedisiplinan pondok. Kriteria santri senior ini berdasarkan lamanya tinggal di dalam pondok. Biasanya mereka tinggal di asrama yang berbeda dengan kondisi yang lebih bersih dan teratur. Di Jawa, santri senior ini biasa disebut lurah pondok.
Sedangkan di dapur biasanya terdapat satu dua buah tungku dari batu bata, periuk nasi, kendi, nampan, cawan, tempayan, gentong, dan alat keperluan dapur lainnya. Sedangkan di pondok yang sedikit lebih maju, dapur dilengkapi dengan ikan, daging, dan botol-botol atau kaleng-kaleng yang berisi bumbu-bumbu. Mereka yang bertanggung jawab atas kedisiplinan santri di dapur ini biasa disebut lurah dapur.
Di depan pondok biasanya ada gerbang yang besar sebagai pintu keluar masuk santri. Untuk itu, pondok biasanya memiliki peraturan dan disiplin yang harus ditaati, kapan dibolehkan keluar pondok, yang ditulis dan ditempelkan di dinding asrama untuk kemaslahatan bersama. Pengumuman itu ditulis dalam aksara Arab pegon.
Meski demikian, susunan perumahan di pondok-pondok itu tergantung kegiatan dan kebijakan guru. Selain masjid, pesantren juga memiliki aula sebagai tempat untuk mengulang pelajaran, pertemuan santri, atau untuk mendengar arahan dan ceramah dari Kyai.
***
Dr. C. Snouck Hurgronje itu hanya melihat pondok secara fisik—letak, gedung, dan bahan bangunan pondok. Dia memasuki kamar-kamar santri, berkeliling dapur, dan melihat lemari-lemari santri. Dia menulis semua itu dengan maksud mengajak khalayak publik untuk menilai dan menyimpulkan apa yang dia lihat.
Kalau hanya melihat bentuk fisik pondok, maka benar apa yang sudah kami sampaikan. Jangan sampai melihat sesuatu itu seperti monyet makan manggis. Sebelum buah manggis digigit, buah itu dilihat beruang kali, dibau, dicium, dan diletakkan. Kemudian, diambil lagi. Begitu diulang sampai beberapa kali, akhirnya digigit. Bagaimana rasanya? Kulit manggis itu terasa pahit dan bercampur dengan getah. Tentu, monyet itu akan meletakkannya. Dia mengira, manggis itu rasanya pahit. Setelah melakukan observasi, monyet itu menyimpulkan manggis terasa pahit. Sebelum dia merasakan manisnya buah manggis, dia sudah membuang buah manggis tersebut.
Itulah penelitian yang dilakukan oleh Dr. C. Snouck Hurgronje. Dia hanya melihat dan meneliti pondok pesantren dari sudut pandang fisiknya. Tidak melihat dari kegiatan, pendidikan, dan pengajaran yang ada dalam pondok.
Secara historis, berdirinya pondok itu berawal dari sosok seorang Kyai. Dia adalah orang yang alim dengan ilmu agama. Dia punya hasrat untuk menyebarkan ilmunya. Kemudian, dia mencari tempat yang cocok untuk mendirikan masjid atau surau. Orang-orang yang hendak menimba ilmu mendatangi orang alim tersebut.
Seiring berjalannya waktu, jumlah santri mulai bertambah. Saat itu rumah Kyai tidak bisa menampung para santri. Karena itu, mereka mendirikan asrama sebagai tempat tinggal di sekitar masjid dan di dekat rumah Kyai. Asrama-asrama itu ada yang sifatnya sementara, ada juga yang sifatnya permanen. Karena sering dipergunakan, maka dilakukan perbaikan-perbaikan.
Dari tahun ke tahun, tempat itu menjadi masyhur dan dibanjiri santri-santri dari berbagai daerah. Secara otomatis, asrama-asrama santri bertambah sampai menjelma menjadi perkampungan. Ketika santri sudah tamat belajar atau karena satu hal harus pulang ke kampung halaman, asrama-asrama itu tidak dibongkar, tetapi dimanfaatkan oleh santri yang baru datang.
Boleh dibilang, asrama-asrama itu sudah diwakafkan untuk santri-santri yang lain. Karena santri datang dan pergi silih berganti, asrama itu pun diperbaiki sesuai dengan kebutuhan santri. Kompleks perkampungan santri inilah yang kemudian disebut sebagai pesantren.
Pada zaman dahulu, pesantren atau padepokan mendapat apresiasi yang luar biasa dari pemerintah dan raja-raja Jawa. Mereka dibebaskan dari pajak, upeti, dan beban iuran kepada negara. Perkampungan itu disebut “Desa Perdikan” atau Kampung yang Merdeka. Di berbagai daerah, nama itu bisa berbeda-beda—di Madura disebut Penyantren, di Sunda disebut Pondok, di Aceh disebut Rangkang Meunasah, di Minangkabau disebut Surau.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, para santri membawa bekal dari rumah masing-masing. Tentu disesuaikan dengan kemampuan mereka, ada yang membawa bekal untuk dua-tiga bulan, satu bulan, atau untuk kebutuhan selama satu-dua minggu. Jelas, santri itu pulang pergi dari pondok ke kampungnya. Ada yang mencari bekal dulu selama satu-dua minggu, kemudian kembali lagi ke pondok untuk belajar. Demikianlah belajar di pondok pada zaman dahulu.
Jadi, yang mendirikan pondok itu santri bukan Kyai. Bukan Kyai yang menggali sumur untuk kebutuhan para santri, dan bukan Kyai yang menyediakan asrama-asrama santri. Oleh karena itu, sudah hal yang biasa kalau ada dipan dalam asrama, dan hal yang biasa kalau santri hanya memiliki selembar tikar.
Bagi yang mampu, sah-sah saja membawa ranjang besi, kasur, dan bantal dari kampungnya sehingga corak dan ragam kehidupan di pesantren bisa bermacam-macam. Dengan begitu, santri bisa fokus belajar di bidang ilmu yang dia minati. Adapun tempat, pakaian, makan dan minum itu hal kecil bagi santri.

Isi, Jiwa dan Masa Depan Pondok Pesantren




Untuk memperoleh pengertian tentang pondok pesantren, kita tidak usah membuat analisa terlalu mendalam (bahasa Jawa: njlimet) dengan meninjau sejarah pondok terlalu jauh sampai ke zaman kuno, membandingkannya dengan sistem pendidikan Mandala dan sebagainya.
Untuk itu, cukuplah kiranya apabila kita memperhatikan perkembangan agama Islam di Tanah Air kita sekitar abad ini, kira-kira 100-200 tahun yang lalu, yaitu pada waktu lembaga yang kita sebut “pondok pesantren” dengan jelas menunjukkan peranannya yang sangat penting dalam syiar agama Islam.
Sudah tentu kita tidak dapat menerima pengertian pondok pesantren sebagaimana definisi yang diberikan oleh para orientalis, misalnya Snouck Hurgrounje, yang hanya memperhatikan bentuk fisik pondok pesantren: gedung dan bentuk asrama para santri dengan segala tradisinya yang statis.
Sebab memang bukan itu hakikat pondok pesantren yang telah banyak memberikan jasa kepada bangsa Indonesia. Ini tidak dapat dipungkiri. Sebagai definisi umum, pondok pesantren adalah berwujud lembaga pendidikan Islam dengan sistem asrama, kyai sebagai sentral figurnya, masjid sebagai titik pusat yang menjiwainya.
Isi Pondok Pesantren
1.            Hakikat pondok pesantren terletak pada isi atau jiwanya, dan bukan pada kulitnya atau luarnya saja. Dalam isi dan jiwanya itulah kita bisa temukan jasa pondok pesantren bagi umat dan bangsa.
2.            Isi pokok pondok pesantren adalah pendidikan. Selama beberapa abad pondok pesantren telah memberikan pendidikan (ruhaniyah) yang sangat berharga kepada para santri sebagai kader-kader mubalig dan pemimpin umat dalam berbagai bidang kehidupan.
3.            Di dalam pendidikan itulah terjalin jiwa yang kuat yang sangat menentukan filsafat hidup para santri. Adapun pelajaran dan pengetahuan yang mereka peroleh selama bertahun-tahun tinggal di pondok pesantren hanya merupakan kelengkapan atau tambahan.
Jiwa Pondok Pesantren
Kehidupan dalam pondok pesantren dijiwai oleh suasana-suasana yang dapat kita simpulkan dalam Panca Jiwa Pondok sebagai berikut:
1.    Jiwa keikhlasan
Sepi ing pamrih, tidak didorong keinginan untuk memperoleh keuntungan tertentu, semata-mata karena untuk ibadah lillah. Ini meliputi segenap suasana kehidupan di pondok pesantren.
Kyai ikhlas mengajar, para santri ikhlas belajar, lurah pondok ikhlas membantu. Segala gerak-gerik dalam pondok pesantren berjalan dalam suasana keikhlasan yang mendalam. Dengan demikian, terdapat suasana hidup yang harmonis antara kyai yang disegani dan santri yang taat dan penuh cinta serta hormat.
2.    Jiwa Kesederhanaan
Kehidupan dalam pondok diliputi suasana kesederhanaan, tetapi agung. Sederhana bukan berarti pasif  (bahasa Jawa: Narimo), bukan itu artinya dan bukan karena kemelaratan atau kemiskinan, tetapi mengandung unsur kekuatan dan ketabahan hati, penguasaan diri dalam menghadapi segala kesulitan.
Maka di balik kesederhanaan itu, terpancarlah jiwa besar, berani maju terus dalam menghadapi perjuangan hidup dan pantang mundur dalam segala keadaan. Bahkan di sinilah tumbuh mental dan karakter yang kuat, yang menjadi syarat bagi suksesnya perjuangan dalam segala segi kehidupan.
3.    Jiwa Berdikari
Inilah senjata hidup yang ampuh. Berdikari atau berdiri di atas kaki sendiri bukan saja dalam arti bahwa santri selalu belajar dan berlatih mengurus segala kepentingannya sendiri, tetapi juga pondok pesantren itu sendiri sebagai lembaga pendidikan tidak pernah menyandarkan kehidupannya kepada bantuan dan belas kasihan orang lain.
Itulah zelf berdruiping system atau sama-sama memberikan iuran dan sama-sama dipakai. Namun tidak bersikap kaku dan menolak orang-orang yang hendak membantu pondok, membela pondok. Justru pondok perlu dibela, dibantu dan diperjuangkan. Siapa lagi yang mau membela, membantu dan memperjuangkan kalau bukan kita umat Islam.
4.    Jiwa Ukhuwah Islamiyah
Kehidupan di pondok pesantren diliputi suasana persaudaraan yang akrab sehingga segala kesenangan dirasakan bersama, dengan jalinan perasaan-perasaan keagamaan. Tali ukhuwah persaudaraan ini bukan hanya selama di pondok pesantren, tetapi juga mempengaruhi ke arah persatuan umat dalam masyarakat sepulang dari pondok.
5.      Jiwa Bebas
Bebas dalam berpikir dan berbuat, bebas dalam menentukan masa depannya, dalam memilih jalan hidup di tengah masyarakat kelak, dengan berjiwa besar dan optimis dalam menghadapi kesulitan. Kebebasan itu bahkan sampai pada bebas dari pengaruh kolonial asing. Di sinilah harus dicari kenapa pondok pesantren mengisolir diri dari kehidupan barat yang dibawa oleh penjajah.
Hanya saja dalam kebebasan ini sering kali kita temui unsur-unsur negatif, yaitu apabila kebebasan itu disalahgunakan, terlalu bebas sehingga kehilangan arah dan tujuan atau prinsip. Ada pula yang terlalu bebas, tidak mau dipengaruhi, berpegang teguh kepada tradisi yang dianggap sakral sehingga tidak mau melihat di sekitarnya dan perubahan zaman.
Akhirnya tidak bebas lagi karena mengikatkan diri pada yang diketahui itu saja alias kolot. Maka kebebasan itu harus dikembalikan pada aslinya, yaitu bebas di dalam batas-batas disiplin yang positif, dengan penuh tanggung jawab, baik di dalam kehidupan pondok pesantren maupun dalam kehidupan bermasyarakat.
Jiwa bebas yang menguasai suasana kehidupan dalam pondok pesantren itulah yang dibawa oleh santri sebagai bekal pokok dalam kehidupannya di tengah masyarakat. Jiwa pondok pesantren inilah yang harus senantiasa dipegang, dihidupkan, dipelihara dan dikembangkan sebaik-baiknya.
Masa Depan Pondok Pesantren
Sebagian besar atau mayoritas pondok pesantren pada masa lalu biasanya lebih banyak mengagung-agungkan kebesaran lama pada abad-abad lampau sehingga menjadi statis. Hal ini hanya boleh berlaku pada masa-masa bertahan terhadap himpitan tekanan penjajahan yang berusaha menghancurkan pondok pesantren dan agama Islam.
Ketika itu, pondok pesantren dalam keadaan lemah tak berdaya untuk berkonfrontasi total melawan penjajah. Pada masa kemerdekaan, lebih-lebih pada masa revolusi yang selalu meningkat sekarang ini, pondok pesantren harus memandang jauh ke masa depan, sepuluh, dua puluh tahun yang akan datang.
Mengingat perkembangan zaman yang senantiasa maju dan berubah-ubah, maka seharusnya pelajaran dalam pondok pesantren diselenggarakan untuk masa depan kehidupan para santri di dalam masyarakat, dengan menggunakan didaktik dan metodik yang menguntungkan pula. Meski demikian, kita tidak usah mengubah inti pendidikan keagamaan dan jiwa pondok pesantren di atas.
Jika dikehendaki, pondok pesantren dapat terus mempertahankan kehidupannya, maka syarat-syarat material harus diperhatikan. Untuk itu, harus ada wakaf yang menjadi backing bagi kelangsungan hidup pondok pesantren dan untuk dapat senantiasa meninggikan mutu pendidikan dan pengajarannya. Sebagai contoh, kita perhatikan bagaimana Universitas Al-Azhar, Kairo Mesir mengembangkan wakafnya.
Satu hal lagi yang sering kali dilupakan pondok pesantren pada masa lampau, yaitu pembentukan kader, generasi atau penerus untuk kelanjutan dan kelangsungan hidup pondok pesantren. Hidup matinya sosok kyai atau pemimpin pondok pesantren merupakan kelangsungan hidup suatu pondok pesantren.
Sebagai lembaga pendidikan Islam, tiap-tiap pondok pesantren harus menyiapkan kader-kader yang akan menggantikan dan mengembangkan usaha dan apa yang dirintis oleh generasi tua. Dengan demikian, pondok pesantren akan tetap terus hidup dan berkembang, meskipun kyai-kyainya telah berulang kali berganti.
Apabila disetujui dapat dipikirkan kiranya untuk mengorganisir penyelenggaraan pondok pesantren sebaik-baiknya, dengan manajemen serapi mungkin. Ini sebenarnya hanya merupakan perumusan dari tradisi pondok pesantren yang sudah lama berlaku ke dalam tata laksana pendidikan pondok pesantren yang lebih baik dan teratur.
Jadi, segala sesuatu yang berkenaan dengan penyelenggaraan pondok pesantren akan dapat diatur sebaik-baiknya dan seefisien mungkin, termasuk di dalamnya tentang batas-batas hak dan kewajiban kyai, ustadz, para santri, dan pondok pesantren itu sendiri. Ini lebih menjamin kelangsungan hidup, keselamatan dan perkembangan pondok pesantren di masa mendatang.

Motto Pondok




Pendidikan di Pondok Pesantren Modern As-Salam Mojokerto menekankan pada pembentukan pribadi yang berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas dan berpikiran bebas. Kriteria atau sifat-sifat utama ini merupakan motto pendidikan di Pondok Pesantren Modern As-Salam Mojokerto.
1. Berbudi Tinggi
Berbudi tinggi merupakan landasan paling utama yang ditanamkan oleh pondok kepada seluruh santri dalam semua tingkatan, dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi. realisasi penanaman motto ini dilakukan melalui seluruh unsur pendidikan yang ada.
2. Berbadan Sehat
Tubuh yang sehat dianggap penting dalam pendidikan di pondok pesantren. Dengan tubuh yang sehat, para santri dapat melaksanakan tugas hidup dan beribadah dengan sebaik-baiknya.
Pemeliharaan kesehatan dilakukan melalui berbagai kegiatan olahraga, kerja bakti, dan bahkan ada olahraga rutin yang wajib diikuti oleh seluruh santri sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.
3. Berpengetahuan Luas
Para santri di pondok dididik melalui proses yang telah dirancang secara sistematik untuk dapat memperluas wawasan dan pengetahuan mereka. Santri tidak hanya diajari pengetahuan, lebih dari itu mereka diajari cara belajar yang dapat digunakan untuk membuka gudang pengetahuan. Kyai sering berpesan bahwa pengetahuan itu luas, tidak teratas, tetapi tidak boleh terlepas dari berbudi tinggi sehingga seseorang itu tahu untuk apa ia belajar serta tahu prinsip untuk apa ia menambah ilmu.
4. Berpikiran Bebas
Berpikiran bebas tidak berarti bebas sebelas-bebasnya, tetapi berpikiran merdeka dengan kematangan berpikir. Kebebasan di sini tidak boleh menghilangkan prinsip, teristimewa prinsip sebagai muslim mukmin. Justru kebebasan di sini merupakan lambang kematangan dan kedewasaan dari hasil pendidikan yang telah diterangi petunjuk Ilahi (hidayah). Motto ini tanamkan sesudah santri memiliki budi tinggi atau budi luhur dan sesudah ia berpengetahuan luas.

Pendidikan di Pondok Pesantren




Pondok pesantren lebih mementingkan pendidikan dibanding pengajaran. Pendidikan di Pondok Pesantren Modern As-Salam memiliki tujuan yang jelas, yiatu:
1. Kemasyarakatan.
2. Hidup sederhana.
3. Tidak berpartai.
4. Tujuan utamanya adalah ibadah thalabul ilmi, bukan menjadi pegawai.

1. Kemasyarakatan
Segala sesuatu yang kiranya akan dialami dalam masyarakat, itulah pendidikan yang akan diberikan kepada santri. Segala tindakan dan pelajaran, bahkan segala gerak-gerik yang ada di pondok pesantren itulah yang akan ditemui di masyarakat.
Tegasnya, kita tidak terlalu mengingat apa yang harus dipelajari di perguruan tinggi. Namun, kita selalu mengingat dan memperhatikan apa yang akan ditemui, dihadapi, dan diamalkan di masyarakat. Dengan harapan, ketika terjun ke masyarakat, santri tidak akan canggung menjadi guru, baik di sekolah rakyat, madrasah ibtidaiyah, tsanawiyah, mengajar pelajaran agama maupun pelajaran umum. Tidak canggung menjadi pengurus suatu organisasi, menjadi mubalig, dan lain sebagainya.
Selain itu, ia tidak segan bekerja sebagai petani, berwirausaha, dan pekerjaan lainnya sesuai bakat masing-masing. Hendaknya tidak hanya bersedia menjadi pegawai, tetapi selalu berusaha agar dapat memimpin pegawai.
Jika kita mempelajari dan meneliti dengan seksama, perekonomian rakyat dulu dikuasai oleh orang-orang lulusan pondok. Sebagai contoh, koperasi batik yang para pengurusnya merupakan lulusan pondok.
Sementara itu, lulusan akademi batik atau akademi tekstil, pada praktiknya hanya menjadi pegawai dan buruh yang mengandalkan upah bulanan. Begitu pun dengan perekonomian di kota lain, seperti Solo, Yogyakarta, Semarang, Pekalongan, Cirebon, Ciamis, Garut, dan Pasar Senen Jakarta. Ilmu yang bermanfaat menjadi dasar pendidikan dan pengajaran di Pondok Pesantren Modern As-Salam.
Sekali lagi harus diingat, “Kita adalah masyarakat.” Jangan sampai seolah-olah menjauhi masyarakat. Mengapa kita harus menjauhi masyarakat sedangkan dari masyarakat kita berasal, masyarakat yang mengasuh, mengenang dan membesarkan kita. Mereka menantikan kedatangan dan mengharapkan bimbingan dan kepemimpinan kita.
Akhirnya, masyarakat pula yang menilai, menghargai usaha dan amal kita. Lebih tepatnya, mereka akan menilai akhlak, pribadi, memanfaatkan kita dalam kehidupan masyarakat.
2. Hidup Sederhana
Mengingat beberapa faktor pendidikan jasmani dan rohani, maka penting sekali dibiasakan untuk hidup sederhana. Semua harus kita laksanakan secara sederhana tanpa mengurangi kualitas kesehatan, baik makan, tidur, berpakaian, maupun rekreasi.
Sederhana adalah pokok keberuntungan. Ia dapat memudahkan kehidupan yang jujur dan bersih. Sebaliknya, mewah tidak mengenal batas, mudah terpengaruh oleh ajakan setan dan Iblis yang selalu mengajak ke jalan kejahatan dan menyebabkan mudah lupa kepada kemanusiaan, tanggung jawab dan rasa syukur.
Biasa hidup sederhana niscaya akan hidup bahagia dan dapat menghadapi hidup dengan kepala tegak, kesanggupan, dan tidak cemas atau takut akan bayangan masa depan. Hidup sederhana bukan menunjukkan kemiskinan. Sederhana bukan berarti miskin. Hidup mewah bukan berarti hidup tidak bermanfaat. Kemewahan bukan kehormatan bahkan mungkin sebaliknya.
Kesederhanaan tersebut antara lain: makanan. Di pondok pesantren, makan dengan antre merupakan hal biasa, membawa piring, mencuci, dan menyimpan sendiri. Keadaan seperti ini mengingatkan orang yang sedang berlayar di atas kapal. Dikatakan demikian karena ada beberapa alasan: belum ada ruang makan, tidak selamanya anak serentak dan makan bersama, pertanggungjawaban perkakas dapur dapat diatasi sendiri, mendidik anak-anak agar tidak merasa malu atau rendah diri karena mengerjakan sesuatu yang remeh.
Nasi yang disediakan bukan nasi putih karena menurut kesehatan nasi putih kurang mengandung vitamin sedangkan vitamin berguna bagi kesehatan tubuh. Untuk lauk pauknya diusahakan menyediakan sayur-sayuran yang mengandung kalori. Kadang diselingi daging sesekali, satu kali atau dua kali seminggu. Pertumbuhan dan kesehatan santri diperhatikan dengan menyediakan menu setiap harinya.
Ini tidak dapat dipungkiri karena dari badan yang sehat akan memancarkan pikiran yang sehat. Pertumbuhan jasmani yang baik akan menimbulkan pertumbuhan rohani yang pesat.
Jadi, yang dicari bukan lezatnya makanan yang akan menjamin kesehatan, tetapi kemanfaatan dan keberkahan makanan yang dapat menghasilkan keuntungan dan kebahagiaan jiwa dan raga.
Demikian pula dengan urusan mandi. Ketika pondok belum memiliki kamar mandi toilet yang mencukupi untuk melayani anak-anak yang banyak sehingga harus antre. Untuk mendapatkan antre pertama, santri harus bangun pagi-pagi. Bangun terlambat akibatnya akan ketinggalan.
Hal lainnya adalah pakaian. Pakaian yang dipakai di pondok pesantren harus sederhana. Biar lama yang penting bersih. Tidak mengapa memakai pakaian yang bertambal, asal sopan. Tidak usah memakai pakaian yang model-model. Memakai pakaian model Nepoleon akan ditertawakan orang. Pakaian model cowboy tidak pantas dipakai. Kita hidup di zaman modern, kenapa harus kembali ke zaman Nepoleon.
Sebagai pemuda Islam harus tahu batas dan aturan berpakaian. Harus memiliki perasaan dan kesopanan yang dapat dibanggakan oleh bangsa dan umat. Pakaian ketat tidak menunjukkan keluhuran dan ketinggian adab, bahkan sebaliknya. Ini seharusnya dihilangkan dari pondok karena menunjukkan kemunduran budi dan kerendahan pekerti.
Jelaslah sekarang bahwa landasan pendidikan di pondok pesantren adalah kemasyarakatan berdasarkan kesederhanaan. Itulah pendidikan yang ada di Pondok Pesantren Modern As-Salam. Semua santri dilatih dan berlatih memperhatikan dan mengerjakan hal-hal yang akan dialami di masyarakat kelak.
Semua santri dididik agar masing-masing memiliki rasa cinta berkorban untuk kepentingan masyarakat, khususnya masyarakat Islam. Berkurangnya rasa berkorban di kalangan umat Islam inilah yang mengakibatkan mundurnya umat Islam di Indonesia.
3. Tidak Berpartai
Salah satu sebab yang tidak dapat dipungkiri, sebab kemunduran umat Islam adalah timbulnya pertentangan dan perpecahan di kalangan umat itu sendiri. Secara historis, umat Islam di Indonesia mengalami perpecahan sejak lama. Politik divide et empera sangat mendalam dan meresap ke dalam hati bangsa Indonesia. Politik adu domba, taktik pecah belah di kalangan bangsa telah berakar kuat.
Dalam keadaan demikian, sedari awal Pondok Pesantren Modern As-Salam telah menghindarkan diri. Perpecahan antar kesukuan disingkirkan jauh-jauh. Pengasuh dan dewan guru pun tidak berpartai.
Itulah sebabnya, santri yang terdiri dari putra-putra pemimpin bermacam-macam partai dan golongan. Ini terus berjalan mengikuti semboyan pendidikan di pondok pesantren agar berpikiran bebas. Sikap tersebut benar-benar mendapat persetujuan semua golongan. Dengan demikian, sekeluarnya dari Pondok Pesantren Modern As-Salam, mereka bebas memilih paham, aliran, dan golongan.
Di pondok pesantren mereka memiliki paham tunggal guru, tunggal pondok, tunggal pendidikan, dan berpikiran bebas. Anak yang sedang belajar di PPM As-Salam hanya mengenal satu organisasi pelajar—Organisasi Pelajar Pondok Pesantren Modern As-Salam (OP3MA) dan satu organisasi kepanduan.
4. Ibadah Thalabul Ilmi, Bukan Menjadi Pegawai
Pondok pesantren mendidik santri-santrinya bukan untuk menjadi pegawai, tetapi menganjurkan agar mereka giat bekerja dan bersemangat dalam thalabul ilmi. Tentang bagaimana dan akan menjadi apa nantinya, menjadi pegawai tingkat berapa, itu sama sekali tidak menjadi dasar pikiran. Bahkan diharapkan mereka dapat menjadi orang yang cakap memimpin suatu usaha atau organisasi, serta dapat menjadi pemimpin bagi teman-temannya.
Ini dapat dilihat dari perkembangan perekonomian, perdagangan, perusahaan, dan tokoh-tokoh yang menjadi pemimpin. Semuanya tidak tergantung pada pelajaran yang khusus, tetapi tetap bergantung pada pendidikan jiwa dan karakter. Apabila terpaksa di antara mereka ada yang menjadi pegawai pun tidak canggung.